Thursday, February 04, 2010 | Posted in

Di awal tahun 2010 ini, DSM Bali mengawali programnya dengan pembekalan Training Up Grading Skill untuk seluruh Unit DSM Group. Jenis training yang menjadi fokus kali ini adalah Komunikasi Pelayanan dan Service Excellent. Tampil sebagai narasumber adalah Ibu Santy Sastra (Owner Santy Sastra Public Speaking). Training selama 2 hari ini banyak memberikan wawasan baru tentang bagaimana memberikan pelayanan yang terbaik bagi customer, bukan pelayanan yang biasa-biasa atau standar saja. Tiap peserta training juga melakukan simulasi dalam menghadapi beberapa karakter customer. “Tuntutan perkembangan saat ini adalah memberikan PELAYANAN SUPER kepada customer. Jika tidak, bersiap-siaplah ditinggalkan customer. DSM Bali sebagai pelopor lembaga filantropi di Bali, harus mampu menjadi Leader dalam memberikan pelayanan kepada customernya. Apalagi jumlah customernya sudah mencapai ribuan orang.” ujar Hendry Sulistiono, Direktur LPIM DSM Bali yang concern di bidang pengembangan SDM.



Read More......
Category: |
��
Thursday, February 04, 2010 | Posted in

SMART Ekselensia Indonesia adalah sekolah tingkat menengah akselerasi berasrama untuk putra di bawah naungan Lembaga Pengembangan Insani (LPI) Dompet Dhuafa. Berlokasi di kawasan Parung, Kabupaten Bogor Jawa Barat, sekolah ini didirikan pada tahun 2004. Angkatan pertama berjumlah 26 orang telah lulus pada Agustus 2009 lalu dan melanjutkan pendidikan di berbagai perguruan tinggi terkemuka di Indonesia, termasuk satu orang menerima beasiswa S1 di Jepang. Saat ini, sebanyak 170 siswa didik masih menjalani pendidikan di SMART Ekselensia Indonesia, dari tingkat kelas 1 SMP hingga 3 SMA.


Sekolah gratis bagi anak-anak yang berprestasi dari seluruh Indonesia ini digagas untuk meningkatkan harkat dan derajat kaum dhuafa melalui program pendidikan dan pembinaan yang komprehensif dan berkesinambungan. Diharapkan, setelah melalui proses pendidikan dan pembinaan di SMART EI, setiap siswa memiliki bekal berkarya untuk bangsa, negara dan agamanya.

Proses seleksi hingga kedatangan calon siswa, serta pendidikan selama berada di kampus SMART EI, tidak dipungut biaya apapun.

Persyaratan Umum
1) Berasal dari keluarga dhuafa (sesuai kriteria Dompet Dhuafa )
2) Laki-laki
3) Lulus/tamat SD atau sederajat
4) Bersedia untuk mengikuti program belajar 5 tahun atau hingga selesai
5) Memperoleh izin dari orang tua/wali
6) Memiliki prestasi akademik, dengan kriteria rata-rata nilai rapor kelas IV-VI minimal 7,0 dan tidak ada nilai 5 di buku rapor
7) Memiliki prestasi kegiatan pendukung, seperti olah raga, kesenian, organisasi, atau keterampilan Bersedia mengikuti seluruh tahapan seleksi sesuai dengan ketentuan yang berlaku
8) Berbadan sehat dan tidak memiliki penyakit menular.

Persyaratan Khusus
1) Mengisi formulir pendaftaran calon peserta seleksi (terlampir)
2) Fotokopi rapor kelas IV – VI yang telah dilegalisir oleh sekolah asal.
3) Fotokopi kartu Nomor Induk Siswa Nasional (NISN)
4) Fotokopi ijasah/STTB/STK
5) Fotokopi piagam penghargaan/sertifikat
6) Surat keterangan tidak mampu dari Dewan Kesejahteraan Masjid (DKM).
7) Surat Keterangan Gaji/Penghasilan orang tua/wali dan/atau anggota keluarga yang menopang/ikut membantu pendapatan keluarga dari RT atau RW atau Dewan Kesejahteraan Masjid (DKM) setempat.
8) Surat pernyataan/izin mengikuti pendidikan di SMART EI dari orang tua
9) Fotokopi rekening listrik 2 bulan terakhir
10) Fotokopi KTP/Surat Keterangan Domisili Tetap dari RT atau RW.
11) Fotokopi Kartu Keluarga/KK.
12) Pas Foto Calon Peserta ukuran 4 X 6 sebanyak 4 lembar.

Untuk tahun ajaran 2010/2011, pendaftaran siswa baru dibuka mulai tanggal 2 Januari 2010 sampai dengan tanggal 28 Februari 2010, dengan menghubungi:

PANITIA SELEKSI NASIONAL BEASISWA SMART EKSELENSIA INDONESIA 2010
Bumi Pengembangan Insani,
Jl. Raya Parung Bogor Desa Jampang Kec. Kemang
Kabupaten Bogor–Jawa Barat 16330
Telp. 0251-8610817 / 8610 818 Ext 21

Untuk calon siswa dari Bali, dapat menghubungi mitra seleksi daerah yaitu Saiful Bahri - 03618588051 atau Hendry - 0361 7445221

Read More......
Category: |
��
Sunday, January 24, 2010 | Posted in

Acara yang dilaksanakan di deSurau Restaurant Denpasar ini berjalan sukses atas kerjasama DSM Bali dengan Telkomsel Bali. Event ini diikuti dengan cukup antusias oleh sekitar 70 pengusaha muslim Bali. Acara ini dipersembahkan dalam rangka Launching T-Cash (Telkomsel Cash) - Zakat DSM BALI. Pembayaran zakat berbasis SMS dengan menggunakan digital/virtual money sehingga transaksi pembayarannyapun secepat SMS.

Hendrat Widjanarko, Branch Manager Telkomsel Denpasar mengatakan bahwa kerja sama ini merupakan salah satu kegunaan praktis T-Cash yang sudah mulai diperkenalkan sejak beberapa tahun lalu. Saat ini lanjutnya, T-Cash sudah bisa digunakan untuk bertransaksi bisnis di Indomaret dan beberapa merchant lain yang bekerja sama. “Selain praktis, penggunaan T-Cash akan mampu memberikan kenyamanan berbelanja pada konsumen.

Ditambahkan Supervisor New Business Telkomsel Branch Denpasar Suparto, keberadaan T-Cash mampu menekan biaya operasional. Dicontohkannya, lembaga penyalur zakat bisa meminimalkan biaya operasionalnya dan menyalurkan lebih besar lagi zakat untuk mereka yang berhak.

“Saat ini telepon seluler bukan sekedar alat komunikasi tetapi juga sebagai alat transaksi bisnis. Pembelian dan pembayaran secara digital yang bisa dinikmati lewat T-Cash merupakan bentuk transaksi bisnis yang jujur,” jelasnya. Lebih lanjut dia memaparkan bisnis jujur yang dimaksud adalah untuk transaksi dengan nilai satuan pun T-Cash akan tetap menghitung sebesar itu.

Program ZIS melalui teknologi komunikasi digital yang pertama di Indonesia itu diluncurkan Telkomsel bersama Dompet Sosial Madani (DSM) Bali di Denpasar, Rabu, 18 November 2009. Peluncuran pembayaran zakat melalui T-Cash itu diawali acara "Bincang Bisnis dan Silaturrahim Pengusaha Muslim Bali" dengan tema “Peluang Usaha berbasis Bisnis Komunitas”.

Salah seorang pengusaha sukses di Bali, H. Zainal Sania sebagai pembicara utama pada acara tersebut, berharap melalui inovasi penerapan teknologi komunikasi digital menggunakan telepon seluler itu akan mampu mendukung program pemerintah dalam menghimpun dana sosial. H. Zainal Sania juga memberikan kiat-kiatnya seperti kenapa harus berbisnis komunitas dan segala macam manfaat dan keuntungannya, bagaimana memulai dan me-manage-nya.

“Ketika kita berbisnis sendiri maka kita berdo’a sendirian untuk kesuksesan bisnis kita. Sungguh dasyat adalah ketika kita menjalankan bisnis secara jama’ah maka mereka semua beserta para keluarganya berdo’a untuk kesuksesan usaha kita”, papar Zainal. *mel, berbagai sumber.


Read More......
Category: |
��
Sunday, January 24, 2010 | Posted in

Oliver Rumney Wigg yang biasa dipanggil Ollie adalah warga negara Australia kelahiran London, Inggris. Sebagai relawan kemanusiaan di bawah Ikatan Relawan Australia, ia sudah dua tahun menjadi relawan di Indonesia. Tujuannya menjadi relawan selain ingin mengetahui kebudayaan Indonesia, ia juga ingin membantu pembangunan Indonesia “karena Indonesia tetangga Australia”, begitu papar Ollie. Selama di Indonesia ia melakukan pengelolaan bencana, membantu dalam bidang agrikultur, membantu di Rumah Sehat Madani selama 4 bulan, fundrising untuk Rumah Sehat Madani—pengembangan unit LKM—sehingga bisa mendapat bantuan 50 juta rupiah dari pemerintah Australia.

Kehadiran Ollie di sini tidak disia-siakan oleh LPIM. Dalam rangka mengembangkan English Class yang telah berjalan, LPIM menggaet Ollie sebagai pengajar bahasa Inggris. Bahasa Inggris menurut Hendry Sulistiono, direktur LPIM, saat ini telah menjadi kebutuhan dasar setiap orang. Maka ia merasa perlu mengoptimalkan lagi kelas bahasa Inggris yang sebelumnya dilaksanakan di Taman Belajar Padang Lalang. Kemudian berpindah tempat ke kantor LPIM, Jl.Pulau Buton no.8. Program ini awalnya diperuntukkan teman-teman DSM Group namun kini berkembang untuk umum. Program ini sangat menarik, selain diajar oleh native speaker, ini juga gratis. Selanjutnya LPIM akan mengadakan kelas-kelas kecil lainnya, seperti Management Class dan Arabic Class. *mel

Read More......
Category: |
��
Sunday, January 24, 2010 | Posted in

Dalam rangka memeriahkan Tahun Baru Islam 1431 H, DSM cabang Badung dan LKM mengadakan pelayanan kesehatan (yankes) untuk pertama kalinya di Desa Klan, Tuban, Badung. Penduduk Desa Klan ini mayoritas bermata pencaharian pengumpul barang bekas. Tentu saja kesempatan ini tidak mereka lewatkan. Tak ayal 110 orang tumpah ruah ke pos yankes untuk memeriksakan kesehatan mereka. LKM mendatangkan dua dokter dan empat perawat untuk melayani dengan sigap.

Program yankes ini akan menjadi program rutin LKM dan DSM cabang Badung. Terbuka juga peluang untuk perusahaan yang ingin berpartisipasi mendukung program ini sehingga bisa berbagi dengan orang-orang yang membutuhkan layanan kesehatan yang layak.

Pada saat yang sama, diserahkan juga santunan beasiswa untuk sepuluh anak yang tidak mampu untuk belajar di TPA (Taman Pendidikan Al-Qur’an) yang didukung oleh Duta Zakat, H.Zainal Sania.


Read More......
Category: |
��
Sunday, January 24, 2010 | Posted in

Wisata Qurban di Singaraja terlaksana pada 27 November 2009 di empat desa, yaitu Pegayaman, Panji Anom, Tegal Lingga, dan Kaliasem. Akan tetapi karena keterbatasan waktu hanya dua desa yang bisa dikunjungi oleh pekurban, yaitu desa Pegayaman dan Panji Anom. Sedangkan di dua desa lainnya, pemotongan qurban tetap dilakukan namun tanpa dihadiri oleh pekurban. Pekurban wisata qurban di pelosok Singaraja ini adalah gabungan dari tiga majelis taklim, yaitu As-Salam Fin Logistic, Liqo’ Laki, dan Salsabila. Mereka tidak hanya menebar hewan kurban tetapi juga memberi hiburan berupa dongeng pembangun jiwa dan hadiah kepada masyarakat di dua desa tersebut. Tercatat ada lima sapi dan tujuh kambing yang disebar di empat desa tersebut. *mel



Read More......
Category: |
��
Sunday, January 24, 2010 | Posted in

Kebiasaan untuk saling membantu dan berbagi sudah mulai ada pada sosok ibu dengan tiga buah hati ini. Panggilan akrabnya adalah Santi. Sebelum ia pindah tugas ke kantor yang berada di Denpasar Barat, ia sudah menjadi unit pengumpul zakat di kantor lamanya, KPP Denpasar Timur. Dengan motto hidup doing the best you can do and being the best you can be, ia bersedia diamanahkan lagi untuk menggantikan UPZ sebelumnya di kantornya yang baru. Hal ini bermula pada Desember 2007 kemarin.

Ketika ditanya kendala yang dihadapi selama menjadi UPZ, ibu yang lahir 26 tahun silam ini menjelaskan, bahwa ada beberapa orang yang enggan zakat lewat perantara, katanya mereka sudah berzakat pada saudaranya atau keluarganya, katanya, keluarganya saja masih butuh bantuan, jadi difokuskan ke keluarga terlebih dahulu. Ada juga yang masih belum terketuk dan lain-lain.

Dengan jumlah umat muslim 40 orang dari jumlah karyawan sebanyak 81 orang, ia mengaku bahwa sekarang tanggung jawabnya sebagai UPZ semakin besar. Kemarin waktu di kantor yang lama, jumlah muslimnya hanya sekitar 30 orang, sekarang bertambah 10 orang. Akan tetapi semangat istri dari Nur Khamid ini masih kuat.

Pada November ini, ia sudah tidak perlu mengambil uangnya secara langsung, akan tetapi langsung dipotong dari penghasilan mereka oleh bendahara sehingga lebih praktis. Ia berharap, semoga dengan kemudahan berzakat ini membuat mereka (muzakki-red) semakin konsisten dan tidak pernah kelupaan lagi untuk berzakat. Di akhir perbincangan, tak lupa ia menyelipkan harapan untuk kemajuan DSM Bali, “semoga semakin amanah dan tetap istiqomah dengan kebaikan yang tercermin selama ini”, paparnya. *ping

Biodata
Nama : Tri Aris Susanti
Ttl : Purworejo, 7 Desember
Alamat : Jl Tukad Pakerisan Gang 20B
Pekerjaan: Pegawai KPP Denpasar Barat
Hobi : membaca


Read More......
Category: |
��
Friday, January 22, 2010 | Posted in

Seorang ibu kumuh dengan baju kumal, masuk ke dalam sebuah supermarket. Dengan sangat terbata-bata dan dengan bahasa yang sopan ia memohon agar diperbolehkan mengutang. Ia memberitahukan bahwa suaminya sedang sakit dan sudah seminggu tidak bekerja. Ia memiliki tujuh anak yang sangat membutuhkan makan. Si Pemilik Supermarket,mengusir dia keluar. Sambil terus menggambarkan situasi keluarganya, si ibu terus menceritakan tentang keluarganya.


"Tolonglah, Pak, Saya janji akan segera membayar setelah aku punya uang."

Si Pemilik Supermarket tetap tidak mengabulkan permohonan tersebut. "Anda tidak mempunyai kartu kredit, anda tidak mempunyai garansi," alasannya.

Di dekat counter pembayaran, ada seorang pelanggan lain, yang dari awal mendengarkan percakapan tadi. Dia mendekati keduanya dan berkata : "Saya akan bayar semua yang diperlukan Ibu ini." Karena malu, Si Pemilik Supermarket akhirnya mengatakan, "Tidak perlu,Pak. saya sendiri akan memberikannya dengan gratis.
" Baiklah, apakah ibu membawa daftar belanja ?"
" Ya, Pak. Ini," katanya sambil menunjukkan sesobek kertas kumal."
Letakkanlah daftar belanja anda di dalam timbangan, dan saya akan memberikan gratis belanjaan anda sesuai dengan berat timbangan tersebut."

Dengan sangat ragu-ragu dan setengah putus asa, Si Ibu Kumal menundukkan kepala sebentar, menuliskan sesuatu pada kertas kumal tersebut, lalu dengan kepala tetap tertunduk, meletakkannya ke dalam timbangan. Mata Si Pemilik Supermarket terbelalak melihat jarum timbangan bergerak cepat ke bawah.
Ia menatap Pelanggan yang tadi menawarkan Si Ibu tadi sambil berucap kecil,
"Aku tidak percaya pada yang aku lihat." Si pelanggan baik hati itu hanya tersenyum.

Lalu, Si Ibu Kumal tadi mengambil barang-barang yang diperlukan, dan disaksikan oleh pelanggan baik hati tadi, Si Pemilik Supermarket menaruh belanjaan tersebut pada sisi timbangan yang lain. Jarum timbangan tidak kunjung berimbang, sehingga si ibu terus mengambil barang-barang keperluannya dan Si Pemilik Supermarket terus menumpuknya pada timbangan, hingga tidak muat lagi.

Si Pemilik Supermarket merasa sangat jengkel dan tidak dapat berbuat apa-apa. Karena tidak tahan, Si pemilik toko diam-diam mengambil sobekan kertas daftar belanja Si Ibu Kumal tadi. Dan ia-pun terbelalak. Di atas kertas kumal itu tertulis sebuah doa pendek :
" Ya Allah, Engkau tahu apa yang hamba perlukan. Hamba menyerahkan segalanya ke dalam tanganMu."
Si Pemilik Supermarket terdiam. Si Ibu Kumal, berterimakasih kepadanya, dan meninggalkan toko dengan belanjaan gratisnya. Si pelanggan baik hati bahkan memberikan selembar uang kepadanya.
Si Pemilik Supermarket kemudian mencek dan menemukan bahwa timbangan yang dipakai tersebut ternyata rusak.Ternyata memang hanya Allah SWT yang tahu bobot sebuah doa.


Read More......
Category: |
��
Friday, January 22, 2010 | Posted in

Bercengkerama bersama dokter yang telah menjalani profesinya selama 30 tahun, Siti Sundari Manoppo, tak terasa dua jam berlalu begitu cepat. Itupun sebenarnya masih banyak pengalamannya yang belum sempat teruraikan. Akan tetapi karena jadwalnya yang sudah diatur sedemikian rupa, maka pembicaraan dicukupkan sampai dua jam. Dia seperti kebanyakan tipikal orang sosial yang senang bercerita, mandiri, dan low profile. Berbicara mengenai kegiatan sosial dan dunia kesehatan bersama dr.Sundari tak akan ada habisnya. Ternyata begitu banyak yang bisa kita lakukan untuk masyarakat. Asal kita mau, berani, dan menjaring link yang potensial. Berikut petikan wawancara Madani bersama dr.Sundari.

1. Apa yang melatarbelakangi Ibu untuk menjadi dokter?

Yang pertama karena bapak orang kesehatan (dinas kesehatan-red). Dulu saya sering diajak tourney sama bapak dan biasa melihat bapak melayani orang. Suatu ketika saya melihat dokter yang sedang memeriksa pasien. Saat itu saya berpikir sepertinya tidak ada profesi yang bisa begitu prestige yang dapat dekat dengan kliennya selain dokter. Coba, anda berobat ke dokter, disuruh tidur mau, disuruh buka baju mau, disuruh angkat tangan juga mau. Setelah selesai memeriksa dan memberi obat, pasien begitu hormat sama sang Dokter untuk mengucapkan terima kasih dan memberi buah tangan pula. Wah...........
Yang kedua, pikiran waktu kelas 3 SMA adalah ingin menyenangkan hati bapak dan ibu andai bisa jadi dokter. Karena ibu selalu berpesan, anak-anak harus lebih pintar dan sekolah lebih tinggi dari beliau berdua. Jadi ketika rame-rame mendaftar ke Fakultas Kedokteran UNAIR, saya juga ikut-ikutan. Tentu saja seperti anak-anak sekarang, penuh perjuangan dan intensive ikut bimbingan test.

2. Selain sebagai dokter, Ibu aktif di mana saja?

Dulu saya sempat aktif di Rotary Club, tapi karena tinggal di Klungkung dan sibuk, maka sekarang tidak ikut lagi karena jauh. Rotary hanya ada di Denpasar dan Ubud. Sekarang anggota pasif saja. Kalau saya ada masukan-masukan atau perlu bantuan, maka masih bisa audiensi di Rotary. Sekarang kegiatan lebih ke anak-anak asuh dan beberapa yayasan yaitu Yayasan Kumara Sandhi di desa Perasi, Karangasem. Kelompok Peduli Bayi dan Anak-anak dengan HIV / AIDS, Yayasan Nusa Harapan di Pulau Nusa Penida, Sanur Green and Blue dan beberapa kegiatan yang insidental.

3. Aktif berkecimpung di dunia sosial, apakah itu tuntutan dari profesi ibu sebagai dokter?

Saya mencoba mengawal jiwa sosial sejak kecil. Orangtua dan lingkungan keluarga juga mendukung untuk bisa seperti itu. Bapak type orang yang nrimo (bisa menerima), beliau PNS yang jujur dan sederhana. Sedangkan ibu type perempuan Bugis yang gigih, yang ingin anaknya itu mendapat pendidikan tinggi. Ibu dulu menjual barang-barang kebutuhan rumah tangga dengan cara mencicil. Saya ikut membantu ibu untuk menagih uang ke orang-orang dengan naik sepeda di Surabaya. Saya tidak malu, walaupun saya kuliah di Kedokteran Unair.Dan sangat disyukuri mempunyai rasa tidak malu untuk berbuat kebaikan. Hal ini sering saya katakan kepada anak-anak agar mereka belajar untuk hidup prihatin walau sebagai orang tua kami bisa mencukupi kebutuhannya.
Tahun 1974, saat kuliah tingkat empat (= semester 7 sekarang) bersama beberapa teman mendirikan Kelompok Mahasiswa Penyayang Kanak-kanak yang bergerak dalam pelayanan kesehatan masyarakat marginal dan membantu siswa tidak mampu agar tidak putus sekolah dengan cara mencarikan orangtua asuh untuk memberi beasiswa. Kelompok ini masih eksis hingga sekarang dengan dibukanya perpustakaan umum di desa Taman, Sidoarjo. Jadi, antara profesi saya sebagai dokter dan kegiatan sosial berjalan beriringan.

4. Dari segi kesehatan, bagaimana tingkat kesadaran masyarakat kita saat ini?

Kesadaran untuk hidup sehat pada umumnya masih jauh dari harapan. Namun upaya dari Pemerintah, LSM, maupun perseorangan yang sadar akan pentingnya pendidikan dapat membantu mempercepat proses kearah yang lebih baik.
Jangan bosan-bosan selalu memberitahu anak-anak kita hal kebersihan. Karena anak akan melakukan sesuatu yang telah diamati dan dipelajarinya sejak kecil.
Jika anak-anak sudah diberi pemahaman yang sederhana tentang kebersihan, kejujuran, kedisplinan, maka kita akan terheran-heran atas kemampuan mereka mengembangkan yang baik-baik yang ditanamkan sejak dini.

5. Bagaimana pula perhatian pemerintah terhadap bidang kesehatan saat ini?

Secara nasional, banyak program kesehatan yang dibuat bertujuan mengangkat harkat hidup bangsa Indonesia agar sehat dan sejahtera.. Namun dalam pelaksanaannya banyak kendala sehingga tingkat kesehatan masyarakat turun lagi. Misalnya, makin banyak anak-anak menderita kurang gizi, timbulnya penyakit-penyakit yang tak terkendali, Keluarga Berencana kurang berhasil, TBC, Lepra, HIV, Rabies, dan banyak lagi penyakit yang menghambat produktivitas.
Tahun 1980-1984 saya bertugas sebagai PNS di salah satu Puskesmas di Karangasem, Itulah saat-saat yang tidak pernah terlupakan.Tiap hari selalu ada hal-hal menantang yang bisa dilakukan untuk meningkatkan kemampuan masyarakat dalam memahami agar mereka tetap sehat hanya berdasar panduan yang telah dibuat oleh Departemen Kesehatan RI.
Sehingga kesimpulannya, semua berpulang pada para pelaku kebijakan dan jajarannya untuk melaksanakan program-program kesehatan yang ada. Apalagi anggaran APBN yang dikeluarkan untuk kesehatan dan pendidikan telah dinaikkan.

6. Saya tertarik dengan klinik percontohan yang akan Ibu jalankan bersama teman-teman. Bisa diceritakan sedikit?

Saya bertemu ibu Nunie yang mempunyai visi dan misi yang cocok. Beliau seorang dermawan dan konseptor. Saya berusaha untuk dapat menerjemahkan keinginannya dan membantu mewujudkan suatu tempat pelayanan kesehatan terpadu yang utamanya untuk ibu-ibu dan anak-anak agar mendapat akses pelayanan kesehatan.
Bapak Syarifudin mempunyai ide yang sama, sehingga dipilihlah wilayah Candi Kuning di Bedugul dengan pertimbangan, komunitas muslimnya banyak, jarak ke Puskesmas jauh, kemampuan finansial beragam, sehingga dapat dikembangkan untuk usaha-usaha yang mandiri. Persiapan-persiapan dan koordinasi telah dilakukan, hanya perlu integrasi dengan desa agar bisa mendapat tempat yang strategis.

7. Setelah klinik percontohan ini berhasil, apakah ada lagi yang ingin Ibu lakukan untuk dunia kedokteran dan sosial?

Insya Allah, nafas, jiwa dan langkah saya selalu untuk kebaikan. Jadi, tidak perlu menunggu klinik kesehatan terwujud. Kuncinya, selalu tanamkan dalam diri, bahwa, setiap saat saya dapat melayani dan menyenangkan siapapun, berarti saya menyenangkan Allah.

8. Bagaimana pandangan Ibu terhadap LKM (Layanan Kesehatan Madani) DSM Bali?

LKM sudah menjalankan program kesehatan terpadu secara profesional. Yang perlu ditingkatkan adalah Program Pencegahan agar anggota atau pasien tidak jatuh sakit lagi. Jadi bidang konseling untuk pencegahan penyakit harus ada. Misalnya divisi home visit atau home care.Membebaskan dhuafa dari biaya pengobatan memang sudah seharusnya namun LKM juga harus bisa menghidupi dirinya sendiri. Hidup dari apa yang diusahakan, ini tantangan yang harus dihadapi. *mel.


Biodata
Nama lengkap : Siti Sundari Manoppo
TTL : Makassar, 30 Agustus 1952
Asal : Surabaya
Pendidikan : lulus Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga th 1979.
Pekerjaan : 1. Dokter Pertamina Terminal Transit Manggis Karangasem.


Read More......
Category: |
��